Wednesday, October 23, 2013

sasaran dan sifat bk



BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.  Pendidikan tidak pernah dapat dideskripsikan secara gamblang hanya dengan mencatat banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan fasilitas yang dimiliki. Pendidikan memang menyangkut hal itu semua, namun lebih dari itu semuanya. Pendidikan merupakan proses yang esensial untuk mencapai  tujuan dan cita-cita pribadi individu (siswa).
Bimbingan merupakan salah satu bentuk helping atau bantuan yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkan. Sebuah bimbingan harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan karena hasil dari bimbingan itu sendiri tidak bisa dilihat dalam satu atau dua kali proses bimbingan. Dalam melakukan bimbingan, harus dilakukan secara sistematis dan terarah supaya tercapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.
Dapat kita simpulkan, bahwa pendidikan itu sangat penting dalam diri siswa untuk mencapai sebuah cita-cita yang diingikannya. dan sebuah bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya.
Namun dalam bab ini, akan dijelaskan sasaran bimbingan konseling dalam sekolah dan beberapa sifat bimbingan dan konseling seperti pencegahan, pengembangan, penyembuhan, dan pemeliharaan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Sasaran Bimbingan dan Konseling
Kata sasaran terdiri dari kata dasar sasar dan akhiran –an, menyasar artinya membidik atau menuju. Menyasarkan berarti mengarahkan atau menujukan. Sedangkan sasaran mempunyai beberapa arti yaitu bulan-bulanan (yang ditembak, dipanah, dibom dsb) dan sesuatu yang menjadi tujuan (yang dikritik, dimarahai dsb). Tapi yang dimaksud sasaran bimbingan dan konseling di sini adalah sesuatu yang menjadi arah tujuan bimbingan dan konseling.
Pada dasarnya sasaran pelayanan bimbingan dan konseling disekolah ialah pribadi siswa secara perseorangan. Ini tidaklah berarti bahwa pelayanan bimbingan dan konseling bersifat individualistis yang mengutamakan kepentingan individu diatas segala-galanya, melainkan bimbingan dan konseling mempunyai sasaran mengembangkan apa yang terdapat pada diri tiap-tiap individu secara optimal agar masing-masing individual dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya.
Dalam setiap kegiatannya pelayanan bimbingan dan konseling, meskipun kegiatan itu berupa kegiatan kelompok misalnya, berusaha untuk membina satu atau beberapa kemampuan pribadi individu yang dibimbing itu dalam berbagai aspeknya, yaitu aspek akademik, sosial, emosional, sikap, keterampilan dan sebagainya. Sasaran bimbingan dan konseling ini secara konseling sebagai pelayanan bagi pribadi siswa secara perseorangan untuk menangani sebuah masalah yang ada pada diri siswa.
Lebih khusus lagi, sasaran pembinan siswa melalui pelayanan bimbingn dan konseling meliputi tahap-tahap pengembangan kemampuan-kemampuan:
a)      Pengungkapan, pengenalan dan peneriman diri
Tiap individu (siswa) diciptakan oleh Allah SWT dibekali dengan potensi-potensi tertentu, namun tidak semua individu mampu mengungkapkan potensi dirinya. Dalam kondisi demikian, individu harus dibantu untuk mengungkap potensi-potensinya. Demikan juga setiap siswa pasti memiliki masalah, tetapi kompleksitasnya berbeda satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, individu tersebut harus dibantu untuk mengenali masalahnya. Selanjutnya, yang mesti diungkap dari individu adalah potensi-potensi diri dan masalah yang dihadapinya, sedangkan yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan konseling.
b)      Pengenalan lingkungan
Individu atau siswa hidup ditenganh-tengah lingkungan. Individu tidak hanya dituntut untuk mengenal dirinya sendiri, melainkan juga dituntut untuk mengenal lingkunganya. Hal ini tidak berarti individu tunduk saja pada lingkunganya, melaikan ia dituntut harus mampu mewujudkan sifat positif terhadap lingkunganya.
c)      Pengambilan keputusan
Setelah potensi individu terungkap dan individu yang bersangkutan mengenal potensi dirinya, mengenal masalah-masalahnya, dan individu tersebutpun dapat menerima dirinya apa adanya sesuai potensinya, serta telah mengenal lingkunganya seccara baik maka tahap berikutnya adalah pembianan kemampuan untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang menyangkut diri sendiri, sering kali amat berat dilakukan, terlebih apabila terjadi pertentangan antara realitas tentang diri sendiri dan lingkunganya. Disinilah peranan bimbingan dan konseling untuk membantu penampilan secara objektif dua unsur, yaitu diri sendiri dan lingkungannya.
d)     Pengarahan diri
Kemampuan mengambil keputusan seperti dikemukakan diatas, hendaknya diwujudkan dalam bentuk kegiatannya. Sebaik apapun keputusannya, apabila tidak diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata tidak ada manfaatnya. 


e)      Perwujudan diri (eksistensi diri)
Dalam konteks ini tujuan pelayanan dan bimbingan konseling adalah membantu individu (siswa) agar mampu mewujudkan diri secara baik ditengah-tengah lingkungannya. Setiap individu hendaknya mampu mewujudkan diri sendiri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar, dan karakteristik kepribadaianya.

Oleh karena itu sasaran utama dari tugas konselor lebih ditekankan pada upaya memberikan motivasi dan persuasi (mendorong dan meyakinkan) kepada anak bimbing bahwa kehidupan masa mendatang sangat memerlukan kemampuan kreatifitas yang sebagian besar diperoleh dari hasil proses belajar mengajar mereka, di samping kemampuan bakat dan pembawaan yang positif yang harus dikembangkan sendiri oleh mereka.

B.     Sifat Bimbingan dan Konseling
Mengenai istilah sifat bimbingan dan konseling, tentunya hal ini akan mengacu pada situasi pada masa pemberian bantuan yang dilihat dari segi proses penampakan atau fenomena- fenomena kesulitan yang dialami dan dihadapi oleh peserta didik pada saat sekarang. Oleh karena itu dalam pemberian bantuan kepada peserta didik dapat dilakukan sebelum peserta didik mengalami kesulitan. Maka dari itu sebagai konselor harus memahami inti permasalahan agar dapat menyelesaiakan masalah dengan baik.
Menurut Nurihsan AJ dan Sudianto A, sifat bimbingan dan konseling ada 5 macam, yaitu:
1.      pencegahan,
2.      penyembuhan,
3.      perbaikan,
4.      pemeliharaan, dan
5.      pengembangan.

Sedangkan fungsi bimbingan dan konseling disebutkan ada 4 macam, yaitu:
1.      fungsi pemahaman,
2.       fungsi penyaluran,
3.      fungsi adaptasi, dan
4.      fungsi penyesuaian.

Berkaitan dengan sifat dan fungsi bimbingan dan konseling diatas dalam pembahasan tertentu ada yang menyebutkan sifat disamakan dengan fungsi. Hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sukardi DK (2002: 26-28) bahwa ditinjau dari segi sifatnya, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi (1) pencegahan (preventif), (2) fungsi pemahaman, (3) fungsi perbaikan, dan (4) fungsi pemeliharaan dan pengembangan.
Adapun sifat bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa:
a.     Pencegahan (prevenif)
yaitu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik yang diberikan oleh guru pembimbing sebagai upaya pencegahan pada peserta didik sebelum menghadapi atau mendapatkan suatu kesulitan yang serius.
b.    Pengembangan (development)
yaitu suatu pemberian bantuan yang diberikan pembimbing kepada peserta didik dengan mengiringi pekembangan mentalnya supaya tetap stabil terutama dalam memantapkan pola pikir yang positif dan tindakan peserta didik yang mengarah pada perubahan menuju arah perkembangan, sehingga peserta didik mampu mengembangkan dirinya secara optimal.
c.     Penyembuhan (curantif)
yaitu pemberian bantuan pada peserta didik dalam usaha perbaikan apabila mengalami suatu permasalahan yang serius dan menghasilkan suatu pemecahan masalah, sehingga peserta didik mendapat memecahkan masalah dan terbebas dari masalah yang dihadapinya.
d.    Pemeliharaan (treatment)
yaitu pemberian bantuan yang dimaksudkan untuk memupuk, menata dan mempertahankan kesehatan mental peserta didik setelah melalui proses penyembuhan supaya peserta didik tidak mengalami masalah yang serius lagi dan mampu bertahan dalam kesembuhannya setelah individu menjalani proses penyembuhan.

Sedangkan menurut Nurihsan AJ dan Sudianto A, sifat bimbingan dan konseling ada 5 macam, yaitu:
1.    Pencegahan
Bimbingan dan konseling berusaha mencegah siswa dari berbagai masalah yang mungkin timbul, yang dapat menggangu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
2.    Penyembuhan
Bimbingan dan konseling diusahakan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dialami oleh siswa.
3.    Perbaikan
Bimbingan konseling untuk memperbaiki kondisi siswa dari permasalahan yang dihadapinya sehingga dapat berkembang secara optimal
4.    Pemeliharaan
Bimbingan dan konseling untuk memelihara kondisi indibidu yang sudah baik agar tetap baik.
5.    Pengembangan
Bimbingan dan konseling untuk mengembangkan berbagai potensi dan kondisi positif individu dalam rangka perkembangan dirinya sendiri secara mantap dan berkelanjutan.

Sifat-sifat bimbingan dan konseling yang ada di atas adalah merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh petugas bimbingan dan konseling dalam melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik dengan baik dan efektif. Dari keempat sifat bimbingan dan konseling diatas, bimbingan memiliki kecenderungan sifat mencegah, pengembangan dan pemeliharaan. Sedangkan konseling memiliki kecenderungan sifat penyembuhan karena dalam konseling itu sendiri individu sudah mengalami masalah yang harus diselesaikan secara konseling.







BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Sasaran utama dari tugas konselor lebih ditekankan pada upaya memberikan motivasi dan persuasi (mendorong dan meyakinkan) kepada anak bimbing bahwa kehidupan masa mendatang sangat memerlukan kemampuan kreatifitas yang sebagian besar diperoleh dari hasil proses belajar mengajar mereka, di samping kemampuan bakat dan pembawaan yang positif yang harus dikembangkan sendiri oleh mereka.
Menurut Nurihsan AJ dan Sudianto A, sifat bimbingan dan konseling ada 5 macam, yaitu:
1.      pencegahan,
2.      penyembuhan,
3.      perbaikan,
4.      pemeliharaan, dan
5.      pengembangan.

Dari kelima sifat bimbingan dan konseling diatas, bimbingan memiliki kecenderungan sifat mencegah, pengembangan dan pemeliharaan. Sedangkan konseling memiliki kecenderungan sifat penyembuhan karena dalam konseling itu sendiri individu sudah mengalami masalah yang harus diselesaikan secara konseling.



DAFTAR PUSTAKA

Salahudin, drs.Anas.2012.Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Pustaka Setia
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011.


No comments:

Post a Comment