Kamis, 23 Agustus 2012

MEMBASMI HAMA SIPUT MURBEI (Pomacea canaliculat Lamarck) MENGGUNAKAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia)


MEMBASMI HAMA SIPUT MURBEI (Pomacea canaliculat Lamarck) MENGGUNAKAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia)





Karya Tulis
(Lomba MKKS SMA Se-Lampung Tengah)





Oleh :

Annisa Fitriana           (9930646943)
Rina Wati                   (9932911850)
Sri Wulandari             (9932911871)





SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 TERBANGGI BESAR
LAMPUNG TENGAH
2010


















ABSTRAK



MEMBASMI SIPUT MURBEI  MENGGUNAKAN BUAH MENGKUDU

Oleh:
1. Annisa Fitriana
2. Rina Wati
3. Sri Wulandari

Siput murbei merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga perlu dibasmi demi peningkatan mutu kwalitas tanaman. Pembasmian ini dapat dilakukan dengan menggunakan ekstrak buah mengkudu, karena kandungan saponin, asam kaprik dan asam kaproat yang dapat bermanfaat demi pembasmian hama siput murbei.

Jenis penelitian ini bersifat eksperimental. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan ekstrak buah mengkudu pada habitat siput murbei, dengan tujuan untuk menginformasikan bahwa ekstrak buah mengkudu dapat digunakan sebagai bahan alternatif dalam membasmi siput murbei.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah mengkudu dengan konsentrasi 20%  dapat membasmi hama siput murbei dengan lebih efektif dibandingkan dengan konsentrasi 10%. Karena denga konsentrasi 20% waktu kematian siput murbei lebih cepat.


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan segala nikmat, karunia dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul ’’Membasmi Siput Murbei (Pomacea canaliculata Lamarck) Menggunakan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia)” dengan baik.

Karya tulis ini disusun dalam rangka untuk mengikuti lomba MKKS se-Lampung Tengah tahun ajaran 2009/2010. Penulis menyadari, dalam pembuatan karya tulis ini, tentunya masih terdapat banyak kekurangan karena keterbatasan penulis dalam menggali informasi dan literatur dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini.

Dalam menyelesaikan karya tulis ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai pihak di sekitar penulis, baik secara materi maupun dorongan semangat yang begitu besar. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1.      Bapak Drs. Hi. Dasiyo Priambodo selaku Kepala SMA Negeri 1 Terbanggi Besar.
2.      Ibu Ari Setiani, S.Pd selaku pembimbing dalam penyelesaian karya tulis ini.
3.      Kedua orang tua kami masing-masing yang selalu memberikan kami motivasi, dorongan dan do`a.
4.      Para dewan guru SMA Negeri 1 Terbanggi Besar yang telah memberikan segenap ilmu pengetahuan.
5.      Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.

Penulis berharap, semoga hasil karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan khususnya bagi penulis. Karena hasil karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, penulis mengharapkan berbagai kritik dan saran guna penyempurnaan karya tulis ini.


                                                                              Poncowati, 21 Febuari 2010

                                                                                     (Penulis)















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
MOTTO
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I   PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
1.4  Manfaat Penelitian
1.5  Batasan Masalah
1.6   Hipotesis
BAB II   LANDASAN TEORI
1.1 Klasifikasi dan Ciri-Ciri Morfologi Tanaman Mengkudu
1.2  Kandungan Zat dalam Buah Mengkudu
1.3 Siput Murbei
1.4 Ciri-Ciri Morfologi Tanaman Padi
BAB III   METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2 Subjek Penelitian
3.3 Instrumen Penelitian
3.4 Alat dan Bahan
3.5 Prosedur Penelitian
BAB IV   HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.2 Pembahasan
BAB V   PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN














PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan tanah yang subur dan kaya akan berbagai jenis tanaman pangan. Kita ketahui bahwa kebutuhan akan pangan bagi penduduk Indonesia makin meningkat setiap harinya. Oleh karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman pangan perlu ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan pangan nasional, maka mutu produktifitas tanaman pangan perlu ditingkatkan demi menopang kebutuhan pangan masyarakat.

Potensi pengembangan tanaman di Indonesia, khususnya tanaman pangan sangat tinggi. Padi merupakan salah satu jenis tanaman yang sangat berpotensi untuk dikembangkan, karena padi merupakan salah satu tanaman pangan pokok bagi masyarakat Indonesia (Handojo, 1991). Akan tetapi, dalam pengembangannya terdapat beberapa kendala yang sangat mempengaruhi mutu dan produktivitasnya.

Rendahnya kualitas tanaman pangan tersebut biasanya disebabkan oleh organisme pengganggu tumbuhan (OPT) (Trubus, Juli 1991). Salah satu jenis OPT ini adalah siput murbei ( Pomacea canaliculata Lamarck ). Siput murbei merupakan hama yang dapat menyebabkan rendahnya hasil produksi tanaman padi (Tjien Mo, 1953). Jika keberadaan hama ini terus dibiarkan, para petani dapat mengalami gagal panen dan akan berdampak pada kerugian  modal usaha yang cukup besar (Tirtosomo, 1984).



 
Selama ini, cara pengendalian hama siput murbei pada tanaman padi masih cenderung menggunakan jenis-jenis bahan kimia seperti pestisida. Sebenarnya, pestisida merupakan zat yang kurang baik apabila digunakan sebagai pembasmi siput murbei, karena penggunaan pestisida secara terus menerus dapat berdampak negatif pada keseimbangan siklus kehidupan, kesehatan, kerusakan tanah, dan juga dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Menurut Adiwisastra (1987), penggunaan pestisida dapat berdampak negatif bagi orang yang menyemprot dan menghirup kandungan bahan pestisida tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk melakukan pengendalian hama siput murbei, yaitu dengan memanfaatkan kandungan ekstrak buah mengkudu sebagai bahan pembasmi alami bagi siput murbei yang tentunya tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, kesehatan, kerusakan lingkungan, dan kesuburan tanah.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasapkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.      Bagaimana cara membasmi hama siput murbei dengan menggunakan ekstrak buah mengkudu ?
2.      Adakah dampak negatif penggunaan ekstrak buah mengkudu terhadap lingkungan ?



1.3  Tujuan
Sesuai dengan permasalahan tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Memberikan informasi alternatif dalam membasmi hama siput murbei dengan menggunakan ekstrak buah mengkudu.

1.4 Manfaat Penelitian

1.       Dalam penelitian ini, petani diharapkan dapat memanfaatkan ekstrak buah mengkudu sebagai bahan alternatif dalam pengendali hama siput murbei yang lebih ramah lingkungan.
2.       Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber acuan untuk menciptakan obat pembasmi hama yang alami, yang tidak merusak keseimbangan ekosistem, lingkungan dan kesehatan manusia.
3.       Penelitian ini dapat dijadikan kajian awal untuk melakukan penelitian lanjutan.

1.5  Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, kami membatasi permasalahan hanya pada pengaruh pemberian ekstrak buah mengkudu pada siput murbei dengan konsentrasi 10% dan 20% dengan,
Variable bebas             : Ekstrak buah mengkudu         
Variabel terikat : Siput murbei.



1.6  Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1) Hipotesis umum
Kandungan asam kaprik, asam kaproat dan saponin yang terkandung dalam buah mengkudu sangat efektif dalam membasmi hama siput murbei.
2) Hipotesis kerja
H0 :      Tidak ada pengaruh pemberian ekstrak buah mengkudu terhadap matinya hama siput murbei.
H1 :      Ada pengaruh pemberian ekstrak buah mengkudu terhadap matinya hama siput murbei.












II. LANDASAN TEORI

2.1 Klasifikasi dan Ciri-ciri Morfologi Tanaman Mengkudu

Tanaman mengkudu pada awalnya terpusat di Polinesia, India, dan Cina. Kemudian menyebar sampai ke Malaysia, Australia, New Zealand, Kepulauan Pasifik, Hawai, Karibia, dan Kanada sampai ke Indonesia. Secara rinci, klasifikasi tanaman tersebut adalah sebagai berikut :
Kingdom          :           Plantae
Devisi               :           Spermatophyta
Sub Devisi        :           Angiospermae
Kelas               :           Dikotiledon
Sub Kelas        :           Sympatalae
Ordo                :           Rubiales
Famili               :           Rubiceae
Genus               :           Morinda
Spesies             :           Morinda citrifolia

Tanaman mengkudu merupakan tanaman tahunan yang berbentuk perdu, dengan ketinggian antara 3-8 meter. Batang tanaman keras dan berkayu yang tumbuh ke atas serta mempunyai banyak percabangan. Cabang-cabang tumbuh mendatar dengan arah keluar kanopi tanaman. Daun termasuk daun tunggal, terdiri atas satu helai daun (petiolus). Berbentuk lonjong dengan panjang antara 10-40 cm dan lebar antara 15-17 cm (http://www.google.com).


 
Tanaman mengkudu berbunga sempurna (hermaprodite) dan menghasilkan buah semu majemuk. Buah mengkudu mempunyai bentuk yang bervariasi (agak bulat, agak lonjong atau panjang ) dengan permukaan yang tidak rata. Buah stadium muda berwarna kehijau-hijauan dan berubah menjadi hijau keputih-putihan ketika memasuki stadium tua (matang) (http://www.google.com).

Tanaman mengkudu dapat tumbuh baik pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-500 dpl, suhu udara antara 22°-30° C. Kelembapan udara ( RH ) antara 50-70 %. Curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan cukup mendapat sinar matahari. Mengkudu menghendaki pH antara 5,5-6,5 dengan struktur subur, banyak mengandung humus, memiliki aerosi dan drainase yang baik. Jenis tanah yang cocok bagi pertumbuhan mengkudu adalah aluvial, latosol dan podsolik merah kuning (http://www.google.com)

2.2 Kandungan Zat dalam Buah Mengkudu

Zat penting dalam buah mengkudu terdiri atas :
1) Terpenoid
Zat ini membantu dalam proses sintesis organik dan pemulihan sel-sel tubuh.
2) Zat Antibakteri
Zat-zat aktif yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat memeatikan bakteri penyebab infeksi, seperti Pseudomonas aerugenosa, Protens morganii staphylococous aerus, Baallus subtitis dan Escherichi coli. Zat anti bakteri juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti Salamonella montivideo, S. scotmuelleri, S. typhi, dan Shigella dusenteriae, S. tlexnerii, S. pradysenteriae, serta Staphylococcus aerus.
3) Scolopetin
Senyawa ini sangat efektif sebagai unsur anti peradangan dan anti alergi.
4) Zat Anti Kanker
Zat ini paling efektif malawan sel-sel abnormal.
5) Xeronine dan Proxeronine
Salah satu alkoloid penting yang terdapat di dalam buah mengkudu adalah xeronine. Buah mengkudu banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine atau proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat seperti koloid-koloid lainnya. xeronine diserap sel-sel tubuh untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif, mengatur struktur dan bentuk sel yang aktif.
6) Asam Kaprik dan Asam Kaproat
Merupakan senyawa lipid atau lemak yang gugus molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri yang berbau tengik dan rasanya tidak enak. Diduga kedua senyawa ini bersikap aktif sebagai anti biotik.
7) Zat Nutrisi
Secara umum, keseluruhan mengkudu merupakan buah makanan bergizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti protein, vitamin dan mineral penting tersedia dalam jumlah cukup pada buah dan daun mengkudu. Selenium, salah satu mineral yang terkandung dalam mengkudu merupakan anti oksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa yang terkandung dalam mengkudu : xeronine, plant sterois, alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, arginine, proxeronine, antraquines, trace elemens, phenylalanine, magnesium, asam kaprik, asam kaproat, saponin, dll.

Daging buah mengkudu banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk. Bau itu timbul karena percampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (http://www.google.com).
8) Saponin
Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai Sapotoksin (http://www.google.com).

2.3 Siput Murbei

Siput merupakan hewan jenis moluska, kelas gastropoda yang mempunyai cangkang yang berputar . Siput tidak bertulang belakang (invertebrata) dan mempunyai cangkang yang keras (Bambang S, 2006)

Siput menghasilkan lendir untuk membantu pergerakan dengan mengurangkan gesekan. Lendir juga mengelakkan siput dari udara dan membantu menjauhi serangga berbahaya seperti semut (Bambang S, 2006).

Siput terdapat di air tawar, air asin dan di daratan. Ada yang bernafas dengan insang, tetapi ada juga yang bernafas dengan paru-paru. Corak warna siput air tawar cenderung lebih suram daripada yang hidup di laut. Siput air tawar hidup di rerumputan dan semak-semak atau di lumpur dan pasir. Salah satu jenis siput air tawar adalah siput murbei (Arthur, 1992).

Secara rinci, klasifikasi siput murbei adalah sebagai berikut :
Kingdom          :           Animalia
Filum                :           Molusca
Kelas               :           Gastropoda
Ordo                :           Pulmonata
Famili               :           Pomaceatidae
Genus               :           Pomacea
Spesies             :           Pomacea canaliculata Lamarck
(http:www.google.com)

Habitat perkembangan siput murbei antara lain :
• Di kolam, rawa, sawah irigasi, saluran air dan area yang selalu tergenang.
• Mereka mengubur diri dalam tanah yang lembab selama musim kemarau. Mereka bisa berdiapause selama 6 bulan, kemudian aktif kembali jika tanah diairi.
  Mereka dapat bertahan hidup pada lingkungan yang ganas seperti air yang terpolusi atau kurang kandungan oksigen (http://www.google.com).



Siklus hidup siput murbei :
▪ Telur diletakkan pada malam hari pada tumbuhan dan barang lain (seperti ranting atau batu) di atas permukaan air.
▪ Kelompok telur berwarna merah jambu kemerah-merahan cerah dan menjadi merah jambu muda ketika akan menetas. Telur menetas dalam 7-14 hari.
▪ Siput murbei cepat besar dan dewasa.
▪ Mereka rakus makan.
▪ Siput murbei kawin selama 3-4 jam pada siang hari pada tumbuhan yang rimbun yang mendapat air sepanjang tahun.
▪ Siput murbei bereproduksi dengan cepat. Mereka dapat bertelur 1000-1200 butir dalam sebulan (http://www.google.com).

Cara siput murbei merusak tanaman :
◘ Padi yang baru ditanam sampai 15 hari setelah tanam mudah dirusak siput murbei, untuk padi tanam benih langsung ketika 4-30 hari setelah tebar.
◘ Siput murbei melahap pangkal bibit padi muda.

Tanda kerusakan tanaman yang disebabkan oleh siput murbei :
Rumput yang hilang.
Adanya potongan daun yang mengambang di permukaan air (http://www.google.com).





2.4 Ciri-ciri Morfologi Tanaman Padi

Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia (Handojo, 1991).

Padi merupakan jenis tanaman semusim, berakar serabut dengan batang yang sangat pendek, struktur batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang. Daun berbentuk lanset dengan warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar dan tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang. Bunga padi tersusun majemuk. Buah bertipe kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, berbentuk bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm yang tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam (Handojo, 1991).

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, setiap bunga padi memiliki enam kepala sari dan kepala putik bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap bereproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbuk sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengndung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan, sedangkan bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.

Asal usul padi diperkirakan berasal dari lembah Sungai Gangga, Sungai Brahmaputra, juga dari lembah Sungai Yangtse. Saat ini padi tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir seluruh bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara yang cukup hangat (www.google.com).

Terdapat dua spesies padi yang dibudidayakan manusia, yaitu Oryza sativa yang berasal dari daerah hulu sungai kaki Pegunungan Himalaya (India dan Tibet) dan O. Glaberima yang berasal dari Afrika Barat (hulu Sungai Niger) (www.yahoo.com).

Dari wikipedia bahasa Indonesia, jenis-jenis hama pada tanaman padi antara lain :
1)      Penggerek batang padi putih (“sundep”, Scirpophaga innotata)
2)      Penggerek batang padi kuning (S. incertulas)
3)      Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera)
4)      Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
5)      Wereng hijau (Nephotettik impicticeps)
6)      Lembing hijau (Nezara viridula)
7)      Walang sangit (Leptocorisa oratorius)
8)      Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
9)      Lalat bibit (Arterigona exigua)
10)  Tikus sawah (Rattus argentiventer)
11)  Siput murbei (Pomacea canaliculata lamarck)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di labolaturium biokimia SMA Negeri 1 Terbanggi Besar pada tanggal 22-23 Januari 2010.

3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah hama tanaman padi, yaitu siput murbei (Pomacea canaliculata Lamarck)

3.3 Instrumen Penelitian
           
Instrumen penelitian berupa buah mengkudu yang telah dihaluskan.

3.4 Alat dan Bahan

Alat :                                                                Bahan :
1.      Neraca statis (1 buah)                                 1. Air (160mL dan 180mL)
2.      Gelas ukur ( 2 buah)                                   2. Siput murbei (20 ekor)
3.      Mortar (2 buah)                                          3. Buah mengkudu (60 gram)
4.      Spatula (4 buah)





                                               
3.5 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Mengumpulkan siput murbei yang menyerang tanaman padi.
  2. Mengumpulkan buah mengkudu yang telah masak.
  3. Melumatkan 20 gram mengkudu untuk konsentrasi 10% dan 40 gram mengkudu untuk konsentrasi 20%.
  4. Memasukkan air sebanyak 160 mL dan 180mL  kedalam 2 buah tabung ukur yang bervolume 1000 mL.
  5. Memasukkan siput murbei yang berukuran sedang sebanyak 10 ekor ke dalam masing-masing tabung berukuran 1000 mL yang berisi air .
  6. Memasukkan ekstrak buah mengkudu kedalam masing-masing tabung yang berisi siput murbei dengan konsentrasi 10% dan 20%.
  7. Melakukan pengmatan pada1-6 jam pertama, 6-8 jam ke dua dan 8-10 jam terakhir .










IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Penelitian

Banyak buah mengkudu yang sering terbuang dan kurang mendapat perhatian untuk dimanfaatkan khasiatnya. Padahal buah mengkudu memiliki manfaat yang sangat banyak, salah satu manfaatnya adalah sangat efektif bila digunakan untuk membasmi hama siput murbei.Pada percobaan ini kami mencoba memanfaatkan buah mengkudu sebagai pembasmi siput murbei.

Berdasarkan hasil percobaan tanggal 22 -23 Januari 2010 di Laboratorium Biokimia SMA Negeri 1 Terbanggi Besar, maka diperoleh hasil seperti yang tercantum pada tabel : 
Tabel 1 Jumlah siput murbei yang mati akibat ekstrak buah mengkudu
NO
Konsentrasi
Mengkudu
Jumlah siput yang digunakan
Banyak siput murbei (ekor) yang mati
Rata-rata
Waktu bereaksi (jam)
Rata-rata
Pengujian
 I
Pengujian
II
Pengujian III
Pengujian
 I
Pengujian
II
Pengujian III

1.
10%
10
7
10
10
9
5
8
10
9
2.
20%
10
9
8
10
9
4
6
7
5,7

4.2 Pembahasan :

Berdasarkan hasil percobaan pada tanggal 22 Januari 2010 di Laboratorium Biokimia SMA N1 Terbanggi Besar didapatkan hasil bahwa siput murbei yang diletakkan pada larutan ekstrak buah mengkudu dengan konsentrasi 10% megalami kematian rata-rata 9 ekor dengan lama bereaksi kurang lebih 9 jam. Sedangkan pada konsentrasi 20% rata-rata jumlah siput murbei yang mati kurang lebih 9 ekor dengan lama bereaksi kurang lebih 5 jam 7 menit. Jika kita bandingkan jumlah individu yang mengalami kematian hampir sama, hanya kecepatan kematiannya yang berbeda.

Pada ekstrak mengkudu dengan konsentrasi lebih rendah waktu yang digunakan untuk mematikan siput murbei jauh lebih lama yaitu sekitar 9 jam. Namun untuk konsentrasi yang lebih tinggi hanya membutuhkan waktu 5 jam 7 menit. Berarti terdapat selisih waktu 3 jam 53 menit. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan semakin tinggi konsentrasi zat yang dilarutkan (ekstrak buah mengkudu) maka semakin cepat dan banyak jumlah siput murbei yang mengalami kematian.













V.      PENUTUP


5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
2.      Siput murbei dapat dibasmi dengan menggunakan ekstrak buah mengkudu.
3.      Ekstrak buah mengkudu yang berkonsentrasi 20% lebih efektif dibandingkan dengan konsentrasi 10%.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,
1. Diperlukan adanya penelitian lanjutan dalam pemanfaatan ekstrak buah mengkudu untuk membasmi siput murbei demi tersempurnanya penemuan ini.
2. Para pengembang bioteknologi di bidang pertanian dapat menjadikan penelitian ini sebagai dasar untuk menciptakan obat pembasmi hama yang alami, efektif dan tidak berefek samping.











 
DAFTAR PUSTAKA


Adiwasastra.1987.Keracunan.Bandung:Angkasa.
Arthur, Alex.1992.Kerang.Penerjemah:Manneke Budiman,S.S.Jakarta:PT. Bentara Antar Asia.
Handojo, D. Djatmika.1991.Petunjuk Teknis Usaha Padi-Ikan-Itik di Sawah. Bandung:Angkasa.
Rost, Thomas L.1979.Botani Introdution to Plant Biology.New York:John Wiley and Son.
S, Bambang.2006.Biologi Untuk Kelas X SMA / MA.Jakarta:Erlangga.
Tjitrosomo, Siti Sutarmi.1984.Botani Umum 3.Bandung:Angkasa.
Tjoa Tjien Mo.1953. Membrantas Hama Padi di Sawah dan Gudang. Bandung:Angkasa

Sumber Internet :
http://www.yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar